|
siswanto
|
 |
« pada: Januari 18, 2009, 01:21:55 » |
|
Nasyid tak laku lagi di PKS. Justru musik rock yang mencorong. Benarkan fenomena ini menggambarkan perubahan besar di tubuh PKS? Sepuluh tahun lalu, Jamaah Tarbiyah sebagai cikal bakal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) nyaris identik dengan nasyid. Saat itu warna musik tanpa instrumen ini begitu lekat dengan perjalanan dakwah dan tarbiyah mereka. Di mana pun dan kapan pun mereka menggelar acara, nasyid tentang perjuangan intifadhah di Palestina, perjuangan kelompok Ikhwanul Muslimin, jihad di Afghanistan dan perang Bosnia selalu membetot perhatian kaum muda.
Saat itu “demam nasyid“ benar-benar melanda. Dalam setiap acara daurah (training), liqo' (pertemuan rutin), mabit (bermalam), kepanduan dan kegiatan jamaah lainnya, nasyid selalu tampil sebagai pemompa semangat, pemupuk rasa kesetiakawanan dan kecintaan kepada Islam. Dengan busana muslim yang rapi, para ikhwan mendendangkan nasyid penuh semangat. Sementara yang akhwat tampil dengan jilbab-jilbab lebar yang teduh dan sopan, melantunkan nasyid tentang generasi harapan dan kerinduan akan kehidupan Islam.
Saat itu pula, grup-grup nasyid lokal bermunculan, bagaikan jamur di musim penghujan. Bahkan seorang aktifis muda seolah belum bisa ditabalkan sebagai aktifis Islam jika belum bisa melantunkan sebait dua bait nasyid dengan penuh semangat tentang perjuangan Islam. Apalagi setelah Partai Keadilan dideklarasikan delapan tahun yang lalu. Para kader muda tarbiyah beramai-ramai membentuk grup nasyid dan rajin menggelar perlombaan di mana-mana.
Tapi tampaknya, musim semi nasyid itu telah berlalu. Musik a capela Islami itu kini sudah mulai terpinggirkan. Grup-grup nasyid mulai gulung tikar. Sementara, para pelantunnya telah mulai hidup mapan dan bahkan menjadi pejabat partai. Sebagai gantinya, justru ingar-bingar musik rock yang penuh kocokan senar bas gitar, gebugan drum berdebam dan jeritan keybord yang kini mendominasi acara-acara Partai Keadilan Sejahtera.
Di antara kelompok musik pop-rock yang tampil dalam acara yang digelar PKS adalah grup band Cokelat. Mereka tampil dalam acara Silaturahim dan Dialog Antarkeluarga Pahlawan Nasional, di Jakarta Convention Center, Rabu (19/11) lalu. Sementara itu, dalam acara Panggung Pemuda Indonesia, yang digelar di Bandung, Kamis (20/11) malam, PKS menampilkan grup musik pop Nidji.
Dalam acara di JCC yang juga dihadiri Ketua Dewan Syuro PKS Ustadz Hilmi Aminuddin itu Kikan, sang vokalis cewek Cokelat, tampil “gaul” dengan busana casual, kaos plus celana panjang jeans ketat dan tentu saja tanpa jilbab. “Tampilan gaul” itu sangat jauh dari citra akhwat PKS yang terbangun selama ini. Apalagi grup musik itu menyanyikan lagu-lagu nasional dan perjuangan dengan aransemen musik rock yang menghentak.
Menurut Kepala Humas PKS Mabruri, partainya memilih Cokelat karena dianggap cocok dengan tema acara yang digelar, yakni mempertemukan sejumlah anak dari pahlawan dan tokoh nasional, sedangkan Nidji melantunkan album religi. Sementara Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta mengatakan bahwa penampilan Cokelat menandakan bahwa PKS ingin merangkul semua pihak. “Kita berkolaborasi dengan seniman atau artis dalam tema yang sama. Senapas dengan semangat perjuangan,“ ujarnya.
Namun, tampilnya beberapa grup musik yang populer di kalangan “anak gaul ibu kota” di acara PKS menggantikan kelompok-kelompok nasyid ini, mau tak mau menimbulkan pertanyaan dari berbagai kalangan ummat. Benarkah partai yang didirikan para aktifis Jamaah Tarbiyah dari berbagai masjid kampus itu tengah bermetamorfosis? Benarkah PKS telah bergeser dari gerakan tarbiyah ala Ikhwanul Muslimin menjadi sebuah partai terbuka yang telah mulai luntur ideologi Islamnya?
Para pejabat teras PKS tentu membantah semua rumor dan dugaan itu. Menurut Mabruri, PKS tetap dalam azas Islam yang dinamis. Sementara Anis Matta menegaskan bahwa partainya selalu mengikuti perkembangan zaman. Menurut politisi asal Sulawesi Selatan itu, PKS tak ingin terjebak dalam pengelompokan aliran Islam tertentu. “PKS sudah moderat dari dulu. Sikap dasar Islam itu moderat,” ujarnya. Islam yang dianut PKS, menurut Anis, adalah Islam jalan tengah. Karena itu, dalam menyikapi setiap persoalan, PKS tidak boleh terlalu keras ataupun terlalu lembut. “Kita tidak mengenal Islam kiri atau kanan. Pengelompokan ini membuat kita kerdil, tidak bisa maju,“ kata Sekretaris Jenderal PKS yang juga merangkap sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) itu.
Padahal, menurut penuturan Ahmad Sumargono, teman seangkatan Ustadz Hilmi saat dipenjara di jaman Orde Baru dulu, pergolakan serius kini sedang terjadi di internal elit PKS. Sebagian tokoh senior Tarbiyah prihatin akan kecenderungan PKS yang kini semakin moderat, hingga kadang agak melupakan prinsip-prinsip pokok dakwah tarbiyah. “Kelompok yang sangat prihatin ini dipimpin Ustadz Hasib dan Ustadz Salim Segaff,” kata mantan anggota DPR dari Partai Bulan Bintang itu.
Para senior Tarbiyah konon merasa prihatin karena langkah-langkah terakhir PKS hanya membuat mereka dijauhi kalangan ummat Islam, karena bergerak di luar mainstream. Padahal, upaya membaur dengan komunitas lain tetap dicurigai, dan tak akan pernah membuat kalangan di luar Islam mempercayai perubahan sikap PKS itu. Tokoh-tokoh itulah yang menggagalkan upaya sebagian elit partai yang ingin membuka PKS untuk semua golongan, dalam Musyawarah Kerja Nasional PKS di Bali, Januari lalu.
Namun para petinggi PKS membantah berita tentang pergolakan di tubuh partai mereka. Tampilnya musik rock yang menggantikan nasyid dalam acara-acara PKS, menurut Mabruri, tidak mewakili fenomena itu. Ia pun membantah bahwa kelompok tarbiyah yang puritan dan selama ini menjadi arus utama PKS mulai tersingkir dan digantikan golongan muda yang lebih moderat. “Wah nggak benar itu. Nggak ada hal seperti itu di PKS. Lagian juga, nggak ada kok kader PKS yang protes soal itu,” ujarnya kepada inilah.com.[Abu Nadia/www.suara-islam.com]
|