Otnawsis
Pengunjung
|
 |
« pada: Januari 17, 2008, 09:35:41 » |
|
Setiap orang yang mengaku beragama Islam atau muslim harus mengimani kesempurnaan dan kemutlakan kebenaran Islam, sebagai suatu ajaran yang universal dan abadi (eternal), yang mengatur hubungan antara manusia sebagai makhluq dengan Allah sebagai Khaliq (Pencipta), antara manusia dengan manusia lainnya dan antara manusia dengan alam sekitarnya. Setiap manusia diberi kebebasan untuk melakukan pemilihan dalam hidupnya. Allah telah memberi kebebasan kepada manusia untuk mengambil salah satu dari dua alternatif, yaitu iman atau kafir.
Namun demikian, bagi seorang yang telah beriman, diharapkan supaya selalu tetap beriman dan tidak ragu-ragu agar terhindar dari kesesatan.
"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya" (QS 4:136, An Nisaa').
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS 3:102, Ali ‘Imran)
Komitmen muslim dalam mengimani Islam seharusnya membawa kepada kepasrahan diri kepada Allah, sebagaimana makna Islam itu sendiri. Abul A'la Maududi berpendapat, bahwa Islam bermakna kepatuhan dan kerajinan menjalankan kewajiban kepada Allah. Islam bermakna memasrahkan diri kepada Allah. Islam bermakna mengorbankan kebebasan dan kemerdekaan diri sendiri demi Allah. Islam bermakna menyerahkan diri di bawah kekuasaan kerajaan dan kedaulatan Allah.
Seseorang yang mempercayakan segala urusannya kepada Allah adalah seorang muslim, dan seorang yang mempercayakan urusan-urusannya kepada dirinya sendiri atau kepada siapapun selain Allah bukanlah seorang muslim. Mempercayakan segala urusan kepada Allah berarti menerima bimbingan Allah yang diberikan melalui Kitab Suci-Nya dan bimbingan yang diberikan oleh Rasul-Nya. Selanjutnya hanya Al Quraan dan Sunnah Rasul sajalah yang harus diikuti dalam setiap masalah kehidupan.
Sekali lagi yang dapat dinamakan seorang muslim hanyalah orang yang rela mengesampingkan pemikirannya sendiri, adat kebiasaan masyarakat dan dunia serta nasehat-nasehat dari orang lain, selain nasehat dari Allah dan Rasul-Nya.
Seorang muslim adalah orang yang dalam setiap persoalan selalu berkonsultasi dengan Kitab Allah dan kata-kata Rasul-Nya, untuk mengetahui apa yang harus ia lakukan dan apa yang tidak boleh ia lakukan.
Seorang Muslim ialah orang yang mau menerima tanpa ragu-ragu sedikitpun petunjuk apa saja yang didapatnya dari Allah dan Rasul-Nya, dan menolak apapun yang dilihatnya bertentangan dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, karena ia telah mempercayakan dirinya sepenuhnya kepada Allah. Dan tindakan mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah inilah yang menjadikan seseorang dapat disebut seorang muslim.
Sebaliknya, seseorang tidaklah dapat dinamakan seorang muslim bila ia tidak bergantung pada Al Quraan dan Sunnah Rasul, tetapi melaksanakan apa yang dikatakan oleh pikirannya sendiri, atau mengikuti apa yang diperbuat oleh nenek moyangnya, atau menyesuaikan diri dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat sekitarnya dan oleh orang-orang di dunia pada umumnya, tanpa mencari petunjuk dalam Al Quraan dan Sunnah tentang bagaimana menangani masalah urusan-urusannya, atau bila ia tahu apa yang diajarkan oleh Al Quraan dan Sunnah tetapi ia keberatan untuk menurutinya dengan mengatakan: "Ah, ini tidak sesuai dengan akal pikiran saya, karena itu saya tidak bisa menerimanya", atau "Karena ajaran Al Quraan dan Sunnah ini bertentangan dengan ajaran nenek moyang saya, maka saya tidak akan mengikutinya", atau "Karena masyarakat dan orang-orang di seluruh dunia tidak menyetujui ajaran Al Quraan dan Sunnah, maka saya juga tidak akan menyetujuinya". Orang yang berpandangan seperti ini tidak dapat dinamakan seorang muslim, dan bila ia menyatakan bahwa dirinya adalah seorang muslim, ia hanyalah seorang pendusta.
Demikianlah, komitmen muslim didalam mengimani Islam seharusnya memberi bekasan yang paling dalam kepada seorang manusia yang menganggap dirinya muslim. Pendapat Abul A'la Maududi di atas tentunya sangat patut kita renungkan. Karena keimanan yang benar adalah keimanan yang konsekuen di jalan lurus (shiratal mustaqim).
|