Forum Diskusi Institut Manajemen Masjid
Pebruari 08, 2012, 10:59:40 *
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi
Berita: Assalaamu'alaikum wr. wb.,

Selamat datang di Forum Diskusi Institut Manajemen Masjid.

Berdiskusilah dengan sopan dan berorientasi pada kebenaran.

Semoga Allah Subhanahu wa ta'ala senantiasa memberi rahmat dan hidayah kepada kita semua. Amien.


Administrator
forum.immasjid.com
 
   Home   Bantuan Cari Kalender Masuk Daftar  
Halaman: [1]   Turun
  Kirim topik ini  |  Cetak  
Pembuat Topik: MENGIMANI ISLAM  (Baca 210 kali)
0 Anggota dan 1 Pengunjung melihat topik ini.
Otnawsis
Pengunjung


Email
« pada: Januari 17, 2008, 09:35:41 »

Setiap orang yang mengaku beragama Islam atau muslim harus mengimani kesempurnaan dan kemutlakan kebenaran  Islam, sebagai   suatu   ajaran  yang  universal   dan   abadi  (eternal),   yang  mengatur  hubungan  antara   manusia sebagai makhluq dengan Allah sebagai Khaliq (Pencipta), antara  manusia  dengan  manusia  lainnya  dan   antara manusia dengan alam sekitarnya. Setiap   manusia  diberi  kebebasan   untuk   melakukan pemilihan dalam hidupnya. Allah telah memberi kebebasan kepada  manusia  untuk mengambil salah  satu  dari  dua alternatif,   yaitu   iman  atau   kafir.

Namun   demikian,  bagi  seorang  yang  telah   beriman, diharapkan supaya selalu tetap beriman dan tidak  ragu-ragu  agar terhindar dari kesesatan.

"Wahai  orang-orang yang beriman,  tetaplah  beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang  Allah turunkan  kepada  Rasul-Nya,  serta  kitab  yang  Allah turunkan  sebelumnya.  Barang siapa yang  kafir  kepada Allah,  malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,  rasul-rasul-Nya,  dan hari kemudian, maka sesungguhnya  orang itu  telah  sesat  sejauh-jauhnya"   (QS  4:136,   An Nisaa').

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS 3:102, Ali ‘Imran)

Komitmen  muslim  dalam  mengimani  Islam  seharusnya membawa   kepada   kepasrahan   diri   kepada   Allah, sebagaimana makna Islam itu sendiri. Abul A'la Maududi berpendapat, bahwa   Islam  bermakna  kepatuhan   dan   kerajinan menjalankan  kewajiban  kepada  Allah.  Islam  bermakna memasrahkan diri kepada Allah. Islam bermakna mengorbankan  kebebasan  dan kemerdekaan  diri  sendiri demi  Allah.  Islam bermakna menyerahkan  diri  di bawah kekuasaan kerajaan dan kedaulatan Allah.

Seseorang yang mempercayakan segala urusannya kepada Allah adalah seorang muslim, dan seorang yang mempercayakan urusan-urusannya  kepada dirinya sendiri atau kepada  siapapun selain  Allah bukanlah  seorang  muslim.  Mempercayakan segala  urusan kepada Allah berarti menerima  bimbingan Allah   yang  diberikan  melalui Kitab Suci-Nya dan bimbingan  yang diberikan oleh  Rasul-Nya.  Selanjutnya hanya Al Quraan  dan Sunnah Rasul  sajalah  yang  harus diikuti  dalam  setiap masalah kehidupan. 

Sekali lagi yang dapat dinamakan seorang muslim hanyalah orang yang rela   mengesampingkan   pemikirannya   sendiri,   adat kebiasaan masyarakat dan dunia serta nasehat-nasehat dari orang lain, selain nasehat dari Allah dan Rasul-Nya.

Seorang muslim adalah orang yang  dalam  setiap persoalan  selalu berkonsultasi dengan Kitab Allah  dan kata-kata Rasul-Nya, untuk mengetahui apa yang harus ia lakukan dan apa yang tidak boleh ia lakukan. 

Seorang Muslim  ialah orang yang mau menerima  tanpa  ragu-ragu sedikitpun petunjuk apa saja yang didapatnya dari Allah dan  Rasul-Nya,  dan  menolak  apapun  yang  dilihatnya bertentangan  dengan  petunjuk  Allah  dan   Rasul-Nya, karena  ia  telah  mempercayakan  dirinya   sepenuhnya kepada   Allah.   Dan   tindakan   mempercayakan diri sepenuhnya   kepada Allah  inilah   yang   menjadikan seseorang  dapat  disebut seorang  muslim.

Sebaliknya, seseorang tidaklah dapat dinamakan seorang muslim  bila ia  tidak bergantung pada Al Quraan dan  Sunnah  Rasul, tetapi melaksanakan apa yang dikatakan oleh pikirannya sendiri, atau mengikuti apa yang diperbuat oleh nenek moyangnya, atau menyesuaikan diri    dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat sekitarnya dan oleh orang-orang  di dunia pada umumnya, tanpa mencari petunjuk dalam Al Quraan dan Sunnah tentang bagaimana  menangani masalah  urusan-urusannya, atau bila ia tahu  apa  yang diajarkan oleh Al Quraan dan Sunnah tetapi ia keberatan untuk  menurutinya  dengan mengatakan: "Ah,  ini  tidak sesuai dengan akal pikiran saya, karena itu saya  tidak bisa menerimanya", atau "Karena ajaran Al Quraan  dan Sunnah ini bertentangan dengan ajaran nenek moyang saya, maka  saya  tidak akan mengikutinya",  atau  "Karena masyarakat  dan  orang-orang  di  seluruh  dunia  tidak menyetujui ajaran Al Quraan dan Sunnah, maka saya juga tidak akan  menyetujuinya". Orang  yang  berpandangan seperti  ini tidak dapat dinamakan seorang muslim,  dan bila ia menyatakan bahwa dirinya adalah seorang muslim, ia hanyalah seorang pendusta.   

Demikianlah,  komitmen  muslim didalam  mengimani  Islam seharusnya  memberi  bekasan yang paling  dalam  kepada seorang manusia yang menganggap dirinya muslim. Pendapat Abul A'la  Maududi di atas tentunya sangat patut kita renungkan. Karena keimanan  yang  benar  adalah keimanan  yang konsekuen di jalan lurus  (shiratal mustaqim).
Laporkan ke moderator   Masuk
Halaman: [1]   Naik
  Kirim topik ini  |  Cetak  
 
Lompat ke:  

Didukung oleh MySQL Didukung oleh PHP Powered by SMF 1.1.5 | SMF © 2006-2007, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!
Halaman dibuat dalam 0.07 detik dengan 18 permintaan.