Forum Diskusi Institut Manajemen Masjid
Pebruari 08, 2012, 11:31:40 *
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi
Berita: Assalaamu'alaikum wr. wb.,

Selamat datang di Forum Diskusi Institut Manajemen Masjid.

Berdiskusilah dengan sopan dan berorientasi pada kebenaran.

Semoga Allah Subhanahu wa ta'ala senantiasa memberi rahmat dan hidayah kepada kita semua. Amien.


Administrator
forum.immasjid.com
 
   Home   Bantuan Cari Kalender Masuk Daftar  
Halaman: [1]   Turun
  Kirim topik ini  |  Cetak  
Pembuat Topik: MENDA’WAHKAN ISLAM  (Baca 1817 kali)
0 Anggota dan 1 Pengunjung melihat topik ini.
Otnawsis
Pengunjung


Email
« pada: Januari 17, 2008, 09:07:44 »

Islam agama bagi seluruh umat  manusia,  tidak hanya  untuk ras atau golongan tertentu. Setiap muslim diharapkan memiliki komitmen da’wah dalam menyebarkan agama ini sebagai rahmatan lil ‘alamin. Da’wah  Islam  ditujukan kepada seluruh umat manusia, baik sesama muslim maupun kepada yang belum muslim. Menda'wahkan Islam berarti  mengajak umat manusia  kepada  aqidah tauhid,    membimbing   mereka    ke   jalan  yang lurus menuju kebahagiaan sejati di dunia maupun akhirat, serta untuk mendapatkan keridlaan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Setiap muslim harus berusaha memegang  teguh  komitmen da'wah  Islam. Artinya, berusaha untuk menda'wahkan  Islam  kepada umat  manusia  serta  berupaya  untuk  terlibat   dalam aktivitas da'wah islamiyah. Setiap muslim berkewajiban dan bertanggungjawab untuk melaksanakan dan memberi dukungan da’wah islamiyah, baik itu ulama, ustadz, mubaligh, ilmuwan, dosen, guru, militer, polisi, pejabat, konglomerat, businessman, direktur, profesional, karyawan, petani, pekerja maupun orang biasa sekalipun. Seberapapun kemampuan, dukungan, partisipasi maupun prestasinya.

Keterlibatan dalam da’wah dapat dilakukan dengan pikiran (bilfikr) dengan tindakan langsung (bilhal), dengan ucapan (billisan), dengan harta (bilmal), dengan tulisan (bilqalam) maupun dengan jiwa (binnafs). Semakin intensif dan beragam jenis keterlibatannya dalam aktivitas da’wah semakin lebih baik.
« Edit Terakhir: Januari 17, 2008, 09:12:07 oleh siswanto » Laporkan ke moderator   Masuk
ihsan
Jr. Member
**
Offline Offline

Tulisan: 13


Lihat Profil WWW Email
« Jawab #1 pada: Pebruari 29, 2008, 11:49:53 »

afwan...mau nambahin....


AMAL  PEDULI  UMAT ...

"Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu...." [Qs. al-Anfal 8:25]

Sebuah amal mulia, tidak akan mampu dipikul kecuali oleh orang-orang yang mulia, yang dengan amal itulah Alloh memuliakan para nabi dan rasul-Nyn serta orang-orang yang mewarisi jejak langkah mereka dengan sebaik-baiknya.

Siapapun yang mengerjakan amal tersebut, maka ia akan menyandang kemuliaan, sebuah kemuliaan yang tidak hanya untuk dirinya sendiri, namun juga bagi seluruh alam. Akan tetapi, semulia apapun orang tersebut, apabila melalaikan amal ini, niscaya ia akan jatuh bcrsama orang-orang yang hina.

Amal Ma’ruf wa nahi munkar, itulah amal mulia tersebut. Sebuah kalimat, ungkapan dan istilah yang ringan di lisan, namun berat untuk diemban.

Keshalihan kadangkala akan melenakan diri seseorang, sehingga ia merasa cukup dan aman dengannya. la tidak terlalu peduli dengan kondisi umat yang ada, apalagi untuk memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi umat.

la puas hanya dengan duduk-duduk di halaqah-halaqah pengajian di pojok masjid. Seolah-olah ia telah melakukan hal yang sangat besar, padahal manusia di sekitarnya kehausan akan kesejukan Islam dan iman, hanya saja mereka tidak menyadarinya.

Padahal keshalihan tidaklah cukup untuk merubah kondisi yang ada di sekitarnya. Namun, setelah seseorang mampu menshalihkan dirinya sendiri, maka dibutuhkan kesadaran dan kepedulian sosial yang tinggi, yang dengannya mampu menumbuhkan kepekaan seseorang terhadap apa yang terjadi di sekitar diri dan lingkungannya.

Tidak sedikit pula orang yang salah sangka bahwa ia tidak akan "pernah" melaksanakan amal ma’ruf nahi munkar, karena menganggap dirinya belum "benar-benir" shalih. Sebuah sangkaan yang dibuat-buat,

dengan dalih: "Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri ...." [QS. al-Baqarah (2): 44]

Larangan tersebut bukan "mencegah" seseorang untuk mengajak orang lain berbuat baik, tetapi larangan bagi yang memadukan keduanya, Yaitu menyuruh kebaikan kepada orang lain namun ia sendiri tidak mengerjakannya.

Padahal ketika kita mengaku mengikuti jejak kehidupan dan akhlak Rasululloh, maka di sana akan ditemukan kesempurnaan akhlak yang melekat pada diri Rasullullah. Bukankah Rasululloh adalah orang yang paling peduli terhadap umatnya?

Hingga ketika malaikat maut datang pun ia tetap mengingat umatnya?

Lalu, tidak malukah kita jika kita mengaku mengikuti beliau , tapi justru melalaikan amal tersebut,

yaitu amal peduli umat?

dikutip dari : Majalah As Silmi , Agustus 2006
Laporkan ke moderator   Masuk

Halaman: [1]   Naik
  Kirim topik ini  |  Cetak  
 
Lompat ke:  

Didukung oleh MySQL Didukung oleh PHP Powered by SMF 1.1.5 | SMF © 2006-2007, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!
Halaman dibuat dalam 0.065 detik dengan 20 permintaan.